Wednesday, 30 September 2020

perang unta ,..sayidina ali dan ummul mukmimin aisyah

 Data-data sejarah yang valid berikut menjelaskan demikian:

Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, terjadi suatu peristiwa yang menghebohkan kaum muslimin, yaitu terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan. Beliau terbunuh dalam keadaan membaca Al-Quran, hingga darah bercucuran dalam mushaf yang beliau baca.

Umat muslim dibuat heboh dengan kabar ini. Khalifah Ali bin Abi Tholib, sebagai penganti kekhalifahan berikutnya, dituntut untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan Khalifah Ustman bin Affan.

Proses pengusutan kasus ini tidaklah mudah sehingga membutuhkan waktu yang begitu lama. Para sahabat yang resah kemudian mengadu kepada Aisyah RA. Aisyah kemudian mengirim pasukan agar datang ke Sayyidina Ali. Tujuannya adalah mengajak kerjasama penyelesaian kasus terbunuhnya Sayyidina Ustman RA.

Ketika pasukan tersebut sampai ke kediaman Sayyidina Ali RA. Beliau mengira akan ada penyerangan dikarenakan jumlah pasukan yang begitu banyak. Kesalahfahaman tersebut membuat beliau menyiapkan pasukan dan mengirim utusan untuk menanyakan tujuan pasukan yang datang tersebut. Pasukan Sayyidatina Aisyah menjelaskan bahwa kedatangan mereka untuk mengajak kerjasama pengusutan kasus pembunuhan Khalifah Ustman RA.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Sayyidina Ali dan pasukannya merasa senang dan menyambutnya dengan baik. Pada malam harinya, mereka tidur dengan tenang dan damai, di bawah tenda-tenda di padang pasir kota madinah.

Dalam kegelapan malam itu, ada sekelompok orang yang menyelendup, baik pasukan Ali maupun Aisyah RA. Kelompok ini adalah pengikut dari pembunuh Khalifah Ustman RA. Mereka ingin mengadu domba kedua belah pihak dengan menyusup pada masing-masing kelompok agar keberadaan mereka tidak dapat diketahui. Pasukan penyusup ini dibagi menjadi dua kelompok, satu menyerang pasukan Ali, satu lagi menyerang pasukan Aisyah.

Dalam kegelapan malam yang gelap gulita, yang terdengar hanyalah suara pertempuran dan hantaman pedang. Pasukan Sayyidina Ali mengira bahwa terjadi penyerangan oleh pasukan Sayyidatina Aisyah, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, pasukan Sayyidina Ali dan Sayyidatina Aisyah saling menyerang dan terjadi pertempuran dahsyat di kegelapan malam itu. Pertempuran ini disebut sebagai perang Jamal. Ribuan korban syahid berjatuhan. Termasuk di antaranya adalah sahabat dekat nabi, yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awaam.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa fitnah dan adu domba adalah ancaman yang menggerikan bagi kaum muslimin. Sayyidina Ali RA yang merupakan sahabat dekat nabi adalah seorang khalifah, seorang yang dijamin masuk surga oleh rasul, seorang yang dijuluki rasul sebagai babul ilmi (pintunya ilmu), bisa termakan oleh fitnah pengadu domba, apalagi kita, orang-orang awam yang hidup jauh setelah kenabian, yang faqir ilmu pengetahuan keagamaan, yang belum tentu nanti meninggal dalam iman atau kekafiran (naudzubillah), tentunya kita sangat rawan terhasut fitnah oleh pengadu domba.

Pada zaman yang sudah serba modern ini, informasi dapat tersebar luas secara cepat. Jikalau zaman dahulu fitnah hanya menyebar ke seluruh kota, sekarang dalam waktu sejam-dua jam sudah bisa menyebar ke seluruh pelosok negeri bahkan luar negeri. Sehingga begitu mudahnya berita bohong menyebar ke seluruh negeri.

Ada kepuasan tersendiri bagi sang provokator apabila apa yang ia provokasi dipercaya dan diikuti banyak orang. Namun yang merugi adalah orang-orang yang terprovokasi. Seperti halnya kisah di atas, kelompok pengadu domba tersebut mendapat kesenangan dan keuntungan karena mereka tak tertangkap. Namun, yang rugi adalah kaum muslimin sendiri. Mereka tak bersalah, mereka semua syahid meninggal dijalan Allah, namun hal ini dapat melemahkan kekuatan, terpecah belah dan menimbulkan konflik berkepanjangan.

  1. Pada suatu hari, setelah terjadinya Waq`atul Jamâl, datanglah amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengunjungi ummul mukminn Aisyah RA, maka Ali pun bertanya: “apa kabar mu wahai ibunda?”. Maka ummul mukminin Aisyah RA menjawab: “Alhamdulillah dalam keadaan baik”. Maka Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Semoga Allah SWT memberikan pengampunan kepadamu wahai ibunda”. (Ath-Thabarani dalam kitab Tarikh [3/55]). Lihat pula: al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibn Katsir [10/468]).

  2. Imam Ibn Jarir ath-Thabari menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib-lah yang memberikan isyarat kepada beberapa pasukannya agar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin dilumpuhkan dan dibunuh saat terjadi Waq`atul Jamâl. Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA menyeru kepada mereka: اُعْقُرُوا الْجَمَلَ؛ فَإِنَّهُ إِنْ عُقِرَ تَفَرَّقُوْا (lumpuh dan bunuh itu unta yang dinaiki oleh ummul mukminin, sebab, kalau unta itu terbunuh, niscaya pasukan yang ada di sekelilingnya akan membubarkan diri) [Tarikh Thabari 3/47]. Tafsir atas perintah Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA ini adalah agar ummul mukminin Aisyah RA dalam keadaan selamat, sebab, saat itu unta dan penumpangnya, yaitu ummul mukminin Aisyah RA menjadi pusat sasaran anak panak dari pasukan “gelap” yang menyusup di barisan Ali dan yang menyusup di barisan ummul mukminin. Dan benar saja prediksi Ali bin Abi Thalib RA, bahwa begitu unta tersebut terbunuh dan ummul mukminin terselamatkan, bubarlah pasukan yang mengelilinginya.

  3. Secara simultan, saat amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengeluarkan perintah isyarat untuk membunuh unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah RA, Ali juga memerintahkan kepada Muhammad bin Abu Bakar, yang tidak lain adalah saudara kandung ummul mukminin Aisyah RA dengan dibantu oleh beberapa orang lainnya, agar Muhammad bin Abu Bakar membawa pergi haudaj (“rumah” di atas unta) yang di dalamnya ada ummul mukminin Aisyah RA untuk dibawa pergi menjauh dari pasukan kedua belah pihak, dan Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Muhammad bin Abi Bakar agar memeriksa haudaj kalau-kalau ada anak panah atau senjata lainnya yang bisa melukai ummul mukminin Aisyah RA. ([Tarikh Thabari 3/73], [al-Bidayah wan-Nihayah 10/468]).

  4. Pada saat Waq`atul Jamâl telah selesai, dan ummul mukminin Aisyah RA hendak meninggalkan kota Bashrah (sebuah kota di Iraq), untuk kembali ke Madinah, amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengirimkan segala yang diperlukan oleh ummul mukminin, mulai dari kendaraan yang akan dinaiki, perbekalan, barang-barang lain yang diperlukan, dan juga pengawalan. Juga 40 wanita Bashrah dari “tokoh-tokoh” wanita Bashrah serta menunjuk Muhammad bin Abu Bakar, saudaranya, agar dia yang menjadi pimpinan pengawal perjalanan ummul mukminin Aisyah RA. Dan pada saat hari keberangkatan tiba,amirul mukminin Ali bin Abi Thalib mendatangi tempat pemberangkatan ummul mukminin Aisyah RA. Setelah semuanya siap, ummul mukminin keluar dari “rumah” tempat keberangkatan, dan berpamitan dengan semua yang hadir, dan berpamitan juga dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA seraya berkata: “wahai putraku, janganlah ada di antara kita yang saling mencela, demi Allah, apa yang pernah terjadi antara aku dan Ali di masa lalu (di masa hidup Rasulullah SAW), tidak lain hanyalah “peristiwa” antara seorang perempuan dengan keluarga (mantu), dan demi Allah, aku bersaksi bahwa Ali termasuk ahlul khair”. Maka Ali RA-pun berkata: “Demi Allah, apa yang ibunda katakana itu benar, tidak terjadi apa-apa antara diriku dengannya kecuali seperti itu, dan sungguh, dia (ummul mukminin) adalah seorang istri nabi kalian di dunia dan di akhirat”. Kemudian ummul mukminin Aisyah berangkat melakukan perjalanan, dan Ali bin Abi Thalib RA mengantarnya sampai beberapa mil jauhnya.

  5. Kalau saja ummul mukminin Aisyah RA ada permusuhan dengan Ali bin Abi Thalib RA, niscaya tidak akan mengucapkan kata-kata seperti itu, dan kalau saja amirul mukminin Ali bn Abi Thalib RA ada permusuhan dengan ummul mukminin Aisyah RA, niscaya ia tidak akan membenarkan ucapan ummul mukminin Aisyah RA. (Kisah lengkap point ini diceritakan oleh Saif bin Umar dalam kitabnya: al-Fitnah wa Waq`atul Jamal, hal. 183. Lihat pula Tarikh Thabari [4/544], al-Muntazhim karya Ibnul Jauzi [5/94], al-Kamil karya Ibnul Atsir [2/614], al-Bidayah wan-Nihayah [10/472]), Nihayatul Arab karya an-Nuwairi [20/50]).
  6. Di saat acara
  7.  “perpisahan” yang dihadiri banyak orang itu terjadi, ada dua orang hadirin yang mencela ummul mukminin. Yang satu mengatakan: “Semoga Allah SWT membalas pembangkanganmu wahai ummul mukminin!”. Dan yang satunya berkata: “Wahai ummul mukminin, bertaubat lah kamu kepada Allah, sebab kamu telah berbuat salah”.
    Berita atas peristiwa celaan ini sampai kepada amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA, maka Ali memerintahkan kepada al-Qa`qâ` bin `Amr untuk menangkap kedua orang itu, lalu kepada masing-masing dari keduanya, Ali bin Abi Thalib memerintahkan agar masing-masingnya didera dengan cambuk sebanyak seratus kali dalam keadaan bertelanjang dada. (al-Kamil [2/614], Nihayatul Arab [20/50]).

  8. Tentang berkecamuknya Waq`atul Jamâl itu sendiri sebenarnya adalah karena ulah dari kalangan yang terlibat dalam pembunuhan amirul mukminin Utsman bin Affan RA, di mana mereka membelah diri dalam dua bagian, sebagian menyusup ke dalam pasukan Ali bin Abi Thalib RA yang lalu menyerang pasukan Aisyah, dan sebagiannya lagi menyusup ke dalam pasukan Aisyah yang lalu menyerang pasukan Ali. Dan mereka melakukan keributan itu di sekitar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah RA untuk memancing orang-orang di luar mereka agar berperang. Mereka berusaha membunuh ummul mukminin Aisyah RA, namun, kemudian amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengetahui siasat mereka itu, dan yang lalu memerintahkan pembunuhan unta dan penyelamatan ummul mukminin seperti tersebut di atas.
  9. Di luar peristiwa Waq`atul Jamâl, hubungan diantara kedua sahabat nabi yang mulia ini sangatlah baik, masing-masing dari keduanya memuji yang lainnya, baik dari sisi ilmu, agama dan kesalihanok

No comments:

Post a Comment

perang iran 2026

 presiden amerika sangat serakah karena dorongan aligarki amerika